Perjalanan Para Suster dalam Program MBKM di Santosa Bandung Hospital

Quality Control (QC) & Proteksi Radiasi di Unit Radiologi

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberikan kesempatan berharga bagi suster-suster untuk belajar langsung di dunia profesional. Salah satunya adalah pengalaman yang dijalani oleh para suster (Sr. Amel Fis’23 dan Sr.Ursula Fis’23) di Santosa Bandung Hospital Kopo (SHBK).

Melalui program ini, para suster tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik klinis, khususnya dalam bidang Quality Control (QC) dan proteksi radiasi di unit radiologi. Kegiatan ini menekankan bahwa pekerjaan di bidang medis tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga ketelitian, konsistensi, serta tanggung jawab terhadap keselamatan pasien dan mutu layanan diagnostik.


Fokus Kegiatan: Quality Control dan Proteksi Radiasi

Selama menjalani program MBKM, para suster memfokuskan diri pada penerapan Quality Control (QC) dan proteksi radiasi. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa alat radiologi, seperti rontgen, selalu dalam kondisi optimal serta aman digunakan.

Selain itu, perhatian juga diberikan pada pengendalian dosis radiasi agar tetap berada dalam batas aman, baik untuk pasien maupun tenaga medis. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran fisika medis dalam menjaga standar keselamatan dan kualitas layanan di rumah sakit.

QC Harian Mamografi

Belajar Langsung di Lapangan

Pengalaman MBKM di SHBK tidak hanya sebatas observasi. Para suster pun terlibat langsung dalam berbagai kegiatan rutin, seperti:

  • Pengolahan dan analisis data dosis radiasi
  • Penggunaan alat ukur seperti multimeter
  • Pemanfaatan phantom dalam pengujian alat radiologi

Keterlibatan ini memberikan pemahaman nyata bahwa konsistensi dalam pelaksanaan QC merupakan kunci utama untuk menjaga performa alat dan keselamatan radiasi.


Pengalaman di Kedokteran Nuklir

Selain di radiologi, suster-suster juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan observasi di bidang kedokteran nuklir. Mereka berinteraksi langsung dengan para ahli dan mempelajari prosedur yang lebih kompleks.

Meskipun menantang, pengalaman ini menjadi motivasi besar untuk terus belajar dan berkembang. Dukungan dari mentor profesional turut membantu suster-suster dalam memahami praktik klinis secara lebih mendalam.


Pengembangan Kompetensi

Selama mengikuti program MBKM, suster-suster tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga mengembangkan berbagai soft skills, seperti:

  • Komunikasi profesional
  • Adaptasi di lingkungan kerja
  • Kemampuan berpikir kritis

Pengalaman ini menunjukkan bahwa kompetensi di bidang fisika medis tidak hanya terbatas pada aspek teknis, tetapi juga menuntut kemampuan bekerja secara sistematis dan kolaboratif.


Tantangan dan Proses Pembelajaran

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah keluar dari zona nyaman, terutama saat menghadapi prosedur teknis yang kompleks. Namun, melalui proses observasi, diskusi, dan praktik langsung, para suster belajar untuk menghadapi tantangan tersebut.

Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan diri dan pengembangan profesional.


Peran Penting Fisika Medis

Program MBKM memberikan gambaran nyata mengenai peran krusial fisika medis dalam dunia klinis. Fisika medis berkontribusi besar dalam:

  • Menjamin keselamatan pasien
  • Mengontrol kualitas alat radiologi
  • Menjaga standar layanan diagnostik

Dengan demikian, fisika medis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi memiliki peran strategis dalam sistem pelayanan kesehatan.