Bandung, 20 Januari 2026. Apakah Fisika hanya tentang rumus, hitungan, dan soal-soal ujian?
Pertanyaan itu dijawab dengan cara yang berbeda dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-71 Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Dalam kesempatan tersebut, Haryanto M. Siahaan, Ph.D., dosen Fisika Teoretik Program Studi Fisika UNPAR, menyampaikan orasi bertajuk:
“UNPARVERSE: Innovation with Conscience.”
Melalui orasi ini, Fisika ditampilkan bukan sekadar disiplin ilmu teknis, melainkan cara berpikir untuk membaca perubahan zaman terutama dalam menghadapi gelombang besar Artificial Intelligence (AI) yang kini membentuk ulang cara manusia belajar, bekerja, dan mengambil keputusan.
AI, menurut beliau, bukan hanya tren teknologi. Ia adalah tantangan intelektual sekaligus moral terbesar abad ini.
AI sebagai “Horizon Peristiwa” Zaman Kita
Dalam fisika, dikenal konsep event horizon batas pada lubang hitam di mana realitas di dalamnya berbeda dari realitas di luarnya. Sekali melintasinya, kita tidak bisa kembali dengan cara yang sama.
Analogi inilah yang digunakan untuk menjelaskan perkembangan AI.
Kita, sebagai masyarakat global, sedang berada di ambang “horizon peristiwa” baru. Dunia setelah AI tidak lagi sama:
cara belajar berubah, cara bekerja berubah, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri pun ikut berubah.
Namun, bagi seorang fisikawan, batas bukanlah sesuatu yang menakutkan.
Sebaliknya, batas adalah undangan untuk memahami lebih dalam.
Bukan untuk mundur, tetapi untuk maju dengan pengetahuan.
Menjadi “Master of the Tools”, Bukan Korban Teknologi
Salah satu pesan kuat dari orasi ini adalah:
Teknologi yang canggih tidak otomatis membuat manusia cerdas. Cara berpikirlah yang menentukan.
Dalam sejarah sains, ilmuwan selalu menggunakan alat bantu—kalkulator, komputer, simulasi—untuk menyelesaikan pekerjaan teknis. Tujuannya bukan untuk menggantikan pemikiran, tetapi agar manusia bisa fokus pada hal yang lebih penting: konsep, makna, dan gambaran besar.
Prinsip yang sama berlaku di era AI.
AI boleh membantu.
AI boleh mempercepat.
Tetapi manusia tetap harus memimpin.
Mahasiswa Fisika UNPAR, menurut orasi ini, tidak dilatih menjadi “penyalin jawaban”, melainkan menjadi pribadi yang:
- kritis,
- mampu bertanya dengan tepat,
- memvalidasi hasil,
- dan memahami konsekuensi ilmiah maupun etis.
Dengan kata lain: menguasai alat, bukan dikuasai alat.

Mengapa Fisika UNPAR Relevan di Era AI?
Melalui tema UNPARVERSE, orasi ini juga menegaskan posisi unik Fisika UNPAR dalam menghadapi masa depan teknologi.
1. Memahami “Why”, bukan hanya “What”
Mesin dapat menghitung dan memprediksi.
Namun fisikawan dilatih untuk bertanya: mengapa ini terjadi? bagaimana prinsip dasarnya bekerja?
Pendekatan konseptual inilah yang membuat manusia tetap relevan di tengah otomasi.
2. Membangun keteraturan di tengah entropi
Alam semesta cenderung menuju ketidakteraturan.
Sains dan pendidikan adalah upaya manusia menciptakan keteraturan, makna, dan pengetahuan.
Belajar fisika berarti menjadi bagian dari usaha besar tersebut.
3. Innovation with Conscience
Tema Dies Natalis UNPAR, “Innovation with Conscience,” menjadi landasan moral yang ditekankan dalam orasi.
Teknologi tanpa nurani bisa menjadi kuat namun berbahaya.
Karena itu, inovasi harus berjalan bersama tanggung jawab, etika, dan nilai kemanusiaan.
Inilah kompas yang membedakan UNPAR: inovasi yang berakar pada hati nurani.
Menjadi Navigator Masa Depan
Di penghujung orasi, disampaikan refleksi yang menggugah:
Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang cepat menginput data—AI sudah bisa melakukannya.
Dunia membutuhkan pemikir yang mampu memahami perubahan besar dan mengarahkannya untuk kebaikan bersama.
Mahasiswa dan generasi muda diajak untuk tidak menjadi objek teknologi, melainkan subjek yang mengendalikan arah teknologi.
Masuk ke “UNPARVERSE” bukan sebagai penonton, tetapi sebagai navigator.
Dengan kepala tegak.
Dengan nalar kritis.
Dan dengan hati nurani.
Karena pada akhirnya, Fisika bukan hanya soal rumus. Fisika adalah cara membaca masa depan.


