Membawa Riset ke Dunia Internasional: Pengalaman Mahasiswa MBKM Presentasi di Konferensi Thailand

Elroy Anderson merupakan mahasiswa Fisika angkatan 2022 berhasil menorehkan pengalaman berharga di kancah internasional dengan mempresentasikan hasil penelitiannya pada sebuah konferensi ilmiah di International Symposium on Carbon & Functional Materials for Energy & Environment (CMEE 2026)”, Thailand pada 22-25 Febuari 2026 yang lalu. Dalam kesempatan tersebut, Elroy mempresentasikan penelitian berjudul “Nitrogen Doping-Induced Activity Modulation in Carbon Black and Graphene Oxide for Alkaline Oxygen Reduction Reaction.” Penelitian ini berfokus pada pengembangan material karbon yang dimodifikasi dengan doping nitrogen untuk meningkatkan aktivitas reaksi reduksi oksigen pada kondisi alkali, yang memiliki potensi penting dalam pengembangan teknologi energi dan lingkungan.

Keikutsertaan dalam konferensi internasional tersebut tidak terlepas dari kegiatan riset yang dijalankannya selama mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebagai bagian dari konversi mata kuliah Proyek Fisika Lanjut, hasil penelitian yang diperoleh perlu dipresentasikan dalam forum ilmiah, baik nasional maupun internasional. Karena sebagian besar konferensi biasanya diselenggarakan pada pertengahan tahun, sementara Elroy menargetkan kelulusan tepat waktu dalam empat tahun, konferensi internasional yang diselenggarakan pada awal tahun ini menjadi pilihan yang tepat. Selain faktor waktu, konferensi tersebut juga dipilih karena lokasinya relatif dekat serta telah diselenggarakan secara konsisten hingga tahun kelima. Dorongan dari Ibu Elok Fidiani, Ph.D. selaku dosen pembimbing untuk mengikuti konferensi internasional juga menjadi motivasi penting agar hasil penelitian dapat memperoleh masukan yang lebih luas dari para ahli di bidangnya.

Melalui konferensi ini, Elroy mendapatkan banyak wawasan baru mengenai perkembangan penelitian material karbon dan fungsionalisasinya untuk aplikasi energi dan lingkungan. Forum ilmiah tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengetahui arah perkembangan riset global serta menilai apakah penelitian yang dilakukan telah relevan dengan kebutuhan dan tantangan dunia saat ini. Selain itu, konferensi ini membuka kesempatan untuk mengenal para peneliti dari berbagai negara yang memiliki minat serupa dalam bidang material karbon.

Pengalaman mempresentasikan hasil penelitian di forum internasional menjadi pengalaman yang sangat berkesan sekaligus menantang. Ini merupakan kali pertama Elroy mempresentasikan hasil risetnya dalam bahasa Inggris di hadapan audiens yang sebagian besar merupakan ahli di bidangnya. Rasa gugup sempat muncul sebelum presentasi dimulai, namun Elroy berusaha tetap fokus menyampaikan materi sebaik mungkin. Kepercayaan diri muncul karena yakin terhadap kualitas hasil penelitian yang telah dilakukan. Dari pengalaman tersebut, Elroy juga menyadari pentingnya pemahaman mendalam terhadap setiap bagian penelitian agar penyampaian presentasi dapat dilakukan dengan lebih percaya diri dan komprehensif.

Persiapan menuju konferensi juga tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah menyusun narasi presentasi yang runtut, koheren, dan menarik. Meskipun konferensi tersebut dihadiri oleh para ahli, tidak semua peserta memiliki latar belakang penelitian yang sama, sehingga materi perlu disusun agar tetap mudah dipahami oleh audiens yang lebih luas. Bagian pendahuluan bahkan mengalami beberapa kali revisi setelah mendapatkan masukan dari dosen pembimbing, rekan peneliti, dan sesama mahasiswa. Dari proses ini, Elroy belajar bahwa kemampuan menyusun scientific storytelling merupakan keterampilan penting bagi seorang peneliti agar ide dan hasil penelitiannya dapat dipahami dengan baik oleh audiens.

Selain tantangan dalam penyusunan materi, terdapat pula tantangan teknis saat pelaksanaan konferensi, seperti pointer yang tidak berfungsi dengan baik, masalah pada kabel HDMI, hingga perubahan jadwal presentasi karena sebagian peserta dalam sesi tersebut belum hadir. Bahkan, Elroy harus mempresentasikan penelitiannya lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan. Tantangan lainnya adalah beradaptasi dalam lingkungan internasional tanpa peserta lain yang berasal dari Indonesia. Meski demikian, pengalaman tersebut justru memberikan pembelajaran berharga mengenai cara para peneliti dari berbagai negara mempresentasikan hasil karakterisasi, menyoroti poin-poin penting dalam penelitian, serta menggunakan berbagai pendekatan metodologis dalam riset mereka.

Berdasarkan pengalamannya, Elroy memberikan beberapa saran bagi mahasiswa yang ingin mengikuti konferensi internasional. Salah satunya adalah berani mencoba kesempatan baru dan memilih konferensi yang dapat mendorong perkembangan diri secara akademik. Selain itu, penting untuk merencanakan waktu pelaksanaan konferensi dengan baik serta menyiapkan dokumen pendaftaran dan pendanaan sejak awal, mengingat proses pengajuan dana di universitas sering kali memerlukan waktu yang cukup panjang. Persiapan dokumen perjalanan seperti paspor, kartu kedatangan, serta bukti-bukti pendanaan juga perlu diperhatikan agar proses administrasi berjalan lancar. Tidak kalah penting juga adalah mempersiapkan materi presentasi sebaik mungkin. Narasi yang disusun harus mengalir dan dapat dipahami tidak hanya oleh para ahli, tetapi juga oleh audiens yang memiliki latar belakang berbeda. Selain itu, kesiapan teknis seperti membawa salinan presentasi, flashdisk, maupun perangkat pendukung lainnya dapat membantu mengantisipasi kendala yang mungkin terjadi saat presentasi berlangsung.

Pada akhirnya, kunci utama dalam mempresentasikan penelitian adalah memahami secara mendalam apa yang dikerjakan sehingga dapat menjelaskannya secara sederhana namun tetap ilmiah kepada siapa pun yang mendengarnya.