Yoshinta E. Setyawati: “Mantap di Fisika Unpar”

Sejak sekolah, saya selalu menyukai sains dan semasa kecil saya suka menonton acara Galileo, sebuah acara yang dipelopori Fisika Unpar. Dari situlah mungkin pertama kali saya mendengar jurusan tersebut, walau nama Unpar sendiri sudah tersohor. Saya masuk melalui jalur beasiswa PMDK, dan alasan mengapa akhirnya saya memutuskan untuk memilih Fisika Unpar adalah karena bidang sains yang memang saya sukai, dan terapannya bisa digunakan dalam berbagai bidang kerja.

Selama di Fisika Unpar, saya awalnya cukup terkejut dengan jumlah mahasiswa. Angkatan saya hanya beberapa orang, kemudian setelah tahun pertama ada beberapa yang keluar, dan hanya lima dari kami bertahan hingga sarjana. Saat itu Fisika Unpar masih baru. Karena jumlah yang sedikit, kami sangat dekat. Kami menghabiskan waktu belajar bersama, organisasi bersama, dan sering diikutkan dalam acara dengan dosen. Suara kami lebih terdengar daripada mahasiswa lain, dosen pun lebih bisa mengingat kami. Saat itu, saya pernah menjadi ketua lomba Fisika untuk SMA yang diorganisir Unpar, di mana saya belajar untuk memimpin dan berorganisasi yang berguna dalam semua bidang. Seandainya jumlah mahasiswa saat itu lebih banyak mungkin kesempatan untuk belajar aktif dalam organisasi justru lebih sedikit.

Untuk Fisika sendiri, saya belajar banyak hal, dari dipaksa menulis ringkas dan berguna untuk tes, membaca buku dalam bahasa Inggris, dan pemrograman. Pemrograman ini yang menurut saya berguna banyak dalam berbagai bidang pekerjaan dan studi. Tiga minggu setelah wisuda, saya mendapat pekerjaan yang jauh dari Fisika, tetapi cara berpikir yang saya peroleh, membantu saya dalam pekerjaan tersebut. Walau bekerja dengan bidang berbeda kami (teman-teman angkatan saya, dan juga angkatan lain), masih sering berkomunikasi. Bagi saya, kelebihan Fisika Unpar adalah juga seperti keluarga.

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan lanjut. Saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda dalam bidang Fisika (astrofisika), bidang tersebut adalah sesuai bidang saya saat mengerjakan skripsi. Dasar-dasar yang saya dapat dari Fisika Unpar berguna dalam master saya di Belanda. Saya lulus tahun lalu dari Radboud University, Belanda. Kemudian, saya melanjutkan studi Ph.D di Jerman dengan bidang yang sama. Sekarang saya mahasiswa di Max Planck Institute di Hannover, Jerman dan riset saya adalah mengenai gelombang gravitasi.

Awalnya saat studi di Belanda, saya merasa banyak perbedaan sistem dengan Indonesia. Banyak yang membuat saya terkejut, seperti kuliah yang sama tetapi di Indonesia lebih lama, sekitar 1 semester, dan open book, sedangkan di Belanda closed book dan hanya dalam 3 bulan. Banyak pengetahuan yang awalnya saya belum tahu, padahal teman-teman Belanda saya sudah mendapat di semester-semester sebelumnya. Memang jurusannya pun agak berbeda, karena di Belanda lebih ke partikel dan astrofisika, sedangkan di Unpar lebih general dalam Fisika. Terlebih dengan bahasa, walau TOEFL saya memenuhi syarat, bahasa Inggris dalam sehari-hari dan akademik terkadang berbeda dengan mengerjalan ujian TOEFL. Jadi, awalnya saya juga harus membiasakan diri dengan bahasa Inggris, ditambah bahasa Belanda sedikit-sedikit. Namun, setelah beberapa bulan saya terbiasa dengan berbagai sistem tersebut, dan dapat mengikuti seperti teman-teman Belanda saya yang lain, walau kami mempunyai dasar yang berbeda.

Untuk pengalaman dengan dosen sendiri sangat jauh berbeda. Bisa dibilang dosen di Fisika Unpar sangat dekat dan lebih bisa berdiskusi. Sedangkan ketika menempuh master, saya merasa kesempatan diskusi lebih sedikit, dan lebih diharap hasil. Menurut saya, Fisika Unpar justru jauh lebih baik dalam proses riset mahasiswa daripada pengalaman saya ketika master di Belanda.

Untuk relevansi dari Fisika Unpar sendiri, menurut saya tergantung dari bidang masing-masing. Bagi saya, walau sempat bekerja di luar bidang Fisika, cara berpikir tersebut, membaca dan menganalisis cukup terpakai sekali. Terlebih ketika saya mendapat kesempatan belajar kembali dalam bidang yang sama. Bidang Fisika teori itu universal, sangat terpakai. Utamanya, pemrograman yang dipakai di mana pun.

Saya bangga mendapat kabar bahwa akreditasi Fisika Unpar sekarang naik menjadi A, harapan saya agar lebih maju dan berinovasi. Terus aktif dalam sains di Indonesia, dan internasional. Diskusi dan kedekatan antar-angkatan dan dosen saya harap juga masih terjaga, karena itu adalah nilai lebih dari Fisika Unpar sendiri.

Selain itu, harapan saya bagi mahasiswa Unpar adalah agar aktif dalam akademik dan organisasi, belajar dan menggunakan terapan Fisika dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi calon mahasiswa, saya harap agar memantapkan diri, karena Fisika juga bukan bidang yang mudah, tetapi bukan bidang yang tidak mungkin, banyak yang didapat ketika lulus dari Fisika Unpar, dan Fisika Unpar saat ini jauh lebih baik dalam berbagai bidang baik riset maupun jumlah mahasiswa. Fasilitas jurusan juga cukup baik dan maju, dan kesempatan belajar dibuka seluasnya bagi mahasiswa dari segala penjuru tanah air.

(Yoshinta E. Setyawati , Fisika Unpar 2004, Studi lanjut S2 di Radboud, Belanda, Studi lanjut S3 di Max Planck Institute, Jerman)