Workshop Sains Integratif berbasis STEAM & IOT

Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS) bekerja sama dengan Rumah Edukasi menggelar lokakarya yang bernama Workshop Sains Integratif berbasis STEAM & IOT bagi Guru SD, SMP, dan SMA di Operation Room Gedung 0 Rektorat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) pada Jumat (24/11).

Rumah Edukasi adalah penyedia pelatihan penggunaan alat peraga edukasi sebagai upaya mengoptimalkan potensi anak. Juga, Rumah Edukasi bekerja sama dengan perusahaan produksi alat peraga Gigo dalam mengembangkan dan mendistribusikan alat peraga edukasi dan pembelajaran sains dan matematika, terutama kepada anak usia dini dan sekolah dasar.

Kepala Laboratorium Elektronik dan Fisika FTIS Drs. Janto Vincent Sulungbudi dan Dimas Setyo, S.T. hadir sebagai pemateri dalam lokakarya tersebut. Hadirin yang turut serta tersebar dari penjuru wilayah, seperti Yayasan Pemberdayaan Tenaga Pendidikan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa Bandung; SMP dan SMA Kuntum Cemerlang; SMA Gonzaga; SD, SMP dan SMA Sugar Group Lampung; SD, SMP, SMA, dan Yayasan St. Angela; SMPK 1 BPK Penabur Bandung, SMPN 9 Bandung, SMPN 16 Bandung, Yayasan Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan nasional, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), SMA Bintang Mulia Bandung, dan SMA BPK Penabur Holis Bandung.

Sesi pertama lokakarya, Janto mengungkapkan akronim dari STEAM yang menjadi headline, yakni Science, Technology, Engineering, Arts, and Math atau dalam bahasa Indonesia adalah Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika. Ia memperkenalkan konsep project based learning kepada para peserta lokakarya.

Menurut Janto, project based learning adalah cara belajar dan mengajar dengan mengalami dan menemukan sendiri. Ia menyontohkan keadaan belajar menyetir kendaraan. Belajar secara perlahan-perlahan dalam mengoperasikan gas, rem, persneling, dan kopling sambil menemukan kegunaan dari masing-masing alat.

“Seperti belajar nyetir, tidak hanya belajar teori, tapi dengan mempraktikkan ilmu secara perlahan,” tandasnya.

Kepada para peserta, ia menjelaskan tahapan-tahapan dalam project-based learning. Pertama, observasi yang akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di benak anak-anak. Ia mengatakan, itulah alasan anak-anak usia dini sering bertanya mengenai objek-objek lingkungan di sekitarnya.

Setelah memunculkan pertanyaan, tahapan selanjutnya adalah hipotesis. Kalau sudah ada pertanyaan, tambahnya, orang akan berusaha untuk mencari data supaya menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Kemudian, melakukan eksperimen-eksperimen yang dapat mendukung hipotesis itu.

Bila eksperimen menunjukkan kegagalan, biasanya akan terus mengulang percobaan itu sampai jawaban ditemukan, katanya. Tahapan terakhir adalah kesimpulan. Observasi, hipotesis, dan eksperimen itu akan menghasilkan sebuah kesimpulan.

Di dalam STEAM dan project-based learning, lanjutnya, diajarkan proses merancang atau engineering, di samping proses ilmiah. Pada hakikatnya, anak-anak diajarkan untuk tetap mencoba dan mendesain ulang supaya mendapat hasil yang terbaik.

Janto menyatakan, terdapat sebuah konferensi di Eropa khusus untuk saintis muda. Karena, lanjutnya, banyak ilmuwan dan akademisi pada saat itu tidak meneruskan ilmunya kepada generasi muda. Sehingga, konferensi tersebut diselenggarakan.

“Jangan sampai seperti kita tidak meneruskan pengetahuan kita. Kita harus menyiapkan anak didik kita untuk menyelesaikan masalah yang mungkin kini belum ada. Mungkin di masa depan, akan ada pekerjaan-pekerjaan yang saat ini belum ada. Dulu aja kan zaman saya, belum ada itu pekerjaan progammer,” ujar Janto.

Para guru diajak merakit alat peraga yang disediakan oleh Rumah Edukasi dan Gigo dalam lokakarya interaktif itu. Janto memberikan instruksi dalam merakit model peraga sesuai. Ia menyebutkan, dari model-model tersebut terdapat beberapa konsep Fisika yang bisa diamati.

Sumber: http://unpar.ac.id/steam-kenalkan-project-based-learning/