Sang jenius berkursi roda itu telah berpulang

Rabu, 14 April 2018, Stephen Hawking menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 76 tahun. Sebelumnya, Hawking divonis mengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) pada usia 21 tahun dan diprediksi dokter hanya akan memiliki sisa hidup 3 tahun lagi. Artinya Hawking telah hidup 51 tahun lebih lama dari perkiraan medis saat itu. Bonus yang cukup panjang.

Hawking dikenal sebagai sosok lumpuh namun luar biasa cemerlang. Label jenius jelas layak diberikan untuk seorang Stephen Hawking. Meskipun lumpuh karena penyakit ALS yang dideritanya, ia sanggup bersaing dengan fisikawan-fisikawan cemerlang lainnya yang normal secara fisik. Hal ini dikarenakan Hawking mampu melakukan perhitungan dan analisis rumit “luar kepala” terkait teori relativitas dan kuantum, yang terkadang kalau dilakukan secara tradisional dengan pensil dan kertas bisa membutuhkan puluhan atau bahkan ratusan baris persamaan. Konon, proses kelumpuhan yang perlahan akibat ALS yang dideritanya memberikan Hawking waktu untuk beradaptasi dan mengembangkan metoda sendiri dalam melakukan perhitungan dan analisis rumit tanpa menggunakan pensil dan kertas. Barangkali ini yang mendasari salah satu kutipan dari Hawking: “Intelligence is the ability to adapt to change“.

Seperti biasa, karya dari seorang jenius mengundang decak kagum banyak orang. Untuk fisikawan khususnya ahli fisika teori, beberapa karya ilmiah Hawking telah menjadi bahan perdebatan hangat sekaligus inspiratif, bahkan hingga puluhan tahun sejak karya tersebut diterbitkan. Beberapa diantaranya yaitu: radiasi lubang hitam dan paradoks informasi yang hilang. Radiasi lubang hitam merupakan penemuan penting, mengingat tanpa radiasi ini maka lubang hitam adalah objek mati secara termodinamika. Tentu hal ini akan memicu ketidak cocokan terkait hukum fisika fundamental terkait perubahan entropi. Debat terkait informasi yang hilang juga menarik untuk dicermati. Debat ini dimotori oleh Gerard ‘t Hooft (pemenang Nobel fisika tahun 1999), Leonard Susskind (salah satu pencetus teori string), dan Hawking sendiri. Menurut Hawking di sebuah papernya tahun 1970 an, informasi dari sebuah objek akan hilang saat objek tersebut masuk ke dalam lubang hitam. Menurut ‘t Hooft dan Susskind adalah sebaliknya, yaitu informasi kekal. Setelah 25 tahun perdebatan, akhirnya Hawking menerima juga bahwa informasi bersifat kekal. Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir muncul lagi sebuah masalah baru bernama paradoks firewall yang memicu keraguan terkait selesai atau tidaknya perdebatan ‘t Hooft-Susskind vs. Hawking ini. Selain dua topik di atas, masih banyak karya ilmiah Hawking lainnya yang merupakan kontribusi besar dalam perkembangan sains khususnya fisika.

Untuk khalayak yang lebih luas, buku best seller dari Hawking berjudul A Brief History of Time “ telah sangat sukses menjelaskan konsep fisika eksotis dan rumit kepada awam dalam bahasa yang mudah dipahami. Buku ini tidak saja menyenangkan untuk dibaca, tetapi juga menjadi motivasi untuk sebagian anak muda untuk menjadi ilmuwan. Tidak heran, buku ini telah terjual lebih dari 10 juta kopi dan diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa. Melalui buku-buku dan paper penelitiannya, Stephen Hawking telah memberikan kontribusi signifikan untuk perkembangan peradaban manusia.

Sekarang sosok cemerlang berkursi roda ini telah tiada. Untuk mengenangnya, salah satu televisi swasta nasional, CNN Indonesia, mengundang fisikawan teori dari jurusan fisika Universitas Katolik Parahyangan, Reinard Primulando, Ph.D., dalam interview live pada Rabu sore lalu. Pembaca yang belum sempat menonton interview tersebut dapat mengunjungi link youtube berikut: https://www.youtube.com/watch?v=1TcVMBsgOFw

-HMS-