Publikasi Internasional Kedua Canisius Bernard Sebagai Penulis Tunggal di Jurnal Physical Review D: “Analytical study of a Kerr-Sen black hole and a charged massive scalar field”.

Setelah pada tahun 2016, Canisius Bernard yang pada saat itu tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Fisika UNPAR berhasil menorehkan prestasi akademik yang mengagumkan, yakni dengan menghasilkan publikasi single author di sebuah jurnal internasional yang berjudul “Stationary charged scalar clouds around black holes in string theory” di sebuah jurnal internasional Physical Review D (https://journals.aps.org/prd/abstract/10.1103/PhysRevD.94.085007), tahun 2017 Bernard kembali berhasil mempublikasikan karya keduanya yang berjudul: “Analytical study of a Kerr-Sen black hole and a charged massive scalar field” (https://journals.aps.org/prd/abstract/10.1103/PhysRevD.96.105025).

Canisius Bernard saat ini telah lulus dari Program Studi Fisika UNPAR, dan masih terus aktif melakukan riset.

Dalam suatu kesempatan, Bernard memaparkan tentang publikasi keduanya:

Analytical Study of a Kerr-Sen Black Hole and a Charged Massive Scalar Field

” Dalam publikasi ini, saya meneliti ketidakstabilan lubang hitam Kerr-Sen melalui medan skalar yang bermassa dan bermuatan. Lubang hitam Kerr-Sen adalah lubang hitam berputar dan bermuatan listrik dalam konteks teori string heterotik pada energi rendah dan telah terkompaktifikasi. Pertama-tama, saya mendeskripsikan besaran fisis dari lubang hitam Kerr-Sen, lalu menganalisa solusi untuk medan skalar. Dari solusi tersebut, didapatkan hubungan yang cukup sederhana antara frekuensi bagian real dan imajiner dari medan skalar tersebut. Lubang hitam sendiri adalah suatu fenomena alam untuk runtuh gravitasi total yang dapat dijelaskan dari teori gravitasi Einstein atau teori gravitasi lainnya seperti teori string. Gaya gravitasi di sekitar lubang hitam sangat kuat sehingga tidak ada materi maupun cahaya yang dapat lolos dari permukaannya. Di sisi lain, teori string mencoba untuk mempersatukan mekanika kuantum dan teori relativitas umum serta menjelaskan seluruh interaksi fundamental yang kita kenal.”

Proses Penelitian Hingga Tahap Publikasi

“Beberapa bulan setelah publikasi karya ilmiah yang pertama, Bpk. Haryanto Siahaan (mantan pembimbing skripsi saya) kembali menyuguhkan suatu permasalahan yang dapat dijadikan sebagai materi untuk karya ilmiah saya selanjutnya. Pada saat itu, walaupun sudah pernah menulis untuk karya ilmiah pertama, saya tetap merasa bahwa permasalahan yang diberikan terasa sulit dan tantangannya pasti lebih berat dibandingkan dengan penulisan yang pertama.”

“Dengan segala keterbatasan ilmu, saya mencoba untuk tetap melanjutkan penelitian. Kali ini, saya benar-benar sendirian karena Bpk. Haryanto menginginkan agar mahasiswa bimbingan beliau mampu untuk melakukan penelitian secara mandiri. Singkat cerita, akhirnya sekitar bulan Agustus 2017 ketika saya anggap penelitian ini sudah selesai, saya segera berkorespondesi meminta komentar dan masukan dari Bpk. Haryanto dan dua orang profesor yang sudah saya kenal sejak proses publikasi pertama. Tanggapan mereka memberikan arahan dan masukan untuk perbaikan tulisan saya.”

“Setelah memperbaiki dan melengkapi tulisan, karya ilmiah tersebut saya kirimkan ke Jurnal Physical Review D. Respons dari pihak editor dan referee dalam kesempatan ini terbilang cukup lama, yaitu hampir tiga bulan hingga akhirnya dipublikasikan pada tanggal 29 November 2017.”

Motivasi Untuk Mahasiswa Fisika Tingkat Sarjana

“Apabila teman-teman mahasiswa tingkat sarjana berkeinginan untuk melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, salah satu cara yang dapat mempermudah kita untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mempublikasikan hasil karya ilmiah kita di jurnal, bahkan jika memungkinkan jurnal berskala internasional. Saya rasa hal tersebut merupakan motivasi yang baik untuk melakukan penelitian dan menulis sebuah karya ilmiah.”

“Dari pengalaman menulis karya ilmiah terdapat pula dampak positif lain yang dapat kita rasakan, seperti dapat berkenalan, berkorespondensi, dan berdiskusi dengan pakar-pakar nasional maupun internasional dalam bidang yang kita minati. Sehingga, hal tersebut dapat memotivasi kita untuk tidak merasa takut ataupun malu untuk berdiskusi dengan para pakar tersebut.”

“Dengan adanya pengalaman dalam menulis suatu karya ilmiah, meskipun masih berada dalam tingkat sarjana, tentunya akan lebih memudahkan kita apabila di kemudian hari kita diharuskan untuk kembali menulis publikasi ilmiah yang notabene merupakan kewajiban pada tingkat pascasarjana.”

-CB-