Meutia Wulansatiti, dari Fisika Unpar menuju CERN

Mendapatkan pengalaman belajar di luar negeri adalah sebuah prestasi yang membanggakan. Apalagi bila pengalaman tersebut datang dari sebuah organisasi berskala internasional. Inilah yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Meutia Wulansatiti, alumnus Program Studi Fisika, Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (FTIS Unpar).

Saat masih berada di bangku perkuliahan, Meutia menjadi mahasiswa fisika perempuan pertama dari Indonesia yang bergabung dalam CERN Summer Student Programme 2017. Program tahunan CERN ini merupakan kesempatan emas bagi mahasiswa sains di seluruh dunia.

Impian Meutia sudah tertanam bahkan sebelum ia memasuki jenjang perkuliahan. “Saya memang tertarik untuk mengunjungi CERN sejak SMA,” katanya dalam wawancara bersama Tim Publikasi. Ketika kesempatan datang, ia tidak segan untuk langsung mendaftarkan diri. “Prosesnya hanya mendaftar, lalu mengisi formulir aplikasi dan menyertakan surat rekomendasi,” jelasnya. Lama ditunggu, datang surat elektronik dari Sekretariat Summer Student Programme, yang menyatakan bahwa ia terpilih untuk mengikuti program tersebut.

Selama delapan minggu, bersama peserta program dari seluruh dunia, ia menjalani berbagai aktivitas menarik di Laboratorium CERN yang berada di perbatasan Swiss dan Perancis. “Aktivitas utamanya kuliah dan mengerjakan proyek,” tuturnya, sembari menjelaskan kegiatan yang ia jalani selama program berlangsung.

Setiap harinya, diselenggarakan kegiatan perkuliahan, sebelum dilanjutkan dengan pengerjaan proyek di siang dan sore hari. Di CERN, Meutia berkutat dalam eksperimen Antihydrogen Trap atau ATRAP, sebuah eksperimen yang bertujuan untuk memahami keberadaan anti-materi. “Proyek saya terkait dengan sistem regulasi tekanan yang digunakan pada alat eksperimen,” jelasnya. Proyek ini membuatnya berhubungan langsung dengan praktisi dan fisikawan berskala internasional yang berkarir di CERN.

Lalu, apa pengalaman yang paling berkesan bagi Meutia? “Yang berkesan adalah bertemu dengan teman-teman sebaya dari berbagai negara yang sama-sama tertarik dengan fisika dan teknologi,” jawabnya. Ia juga menambahkan bahwa pengalaman bekerja bersama para fisikawan kelas dunia dalam eksperimen menjadi pengalaman berharga baginya. Di sana, tambahnya, “saya mendapat wawasan baru dan koneksi dengan fisikawan-fisikawan dari berbagai negara dan universitas, serta memperkaya pengetahuan saya tentang fisika dan teknologi.” Di sisi lain, topik maupun konsep yang ia dalami merupakan sesuatu yang baru baginya sehingga menghadirkan tantangan tersendiri.

Sebelumnya, Meutia pernah berkolaborasi dalam proyek ALICE, yang juga menjadi bagian dari CERN. Seperti yang diberitakan laman Program Studi Fisika Unpar, Meutia mengambil data eksperimen ALICE secara jarak jauh untuk merekonstruksi meson D netral, sebagai bagian dari tugas akhirnya. Tugas akhir ini dikerjakan bersama Dr. Suharyo Sumowidagdo dari LIPI dan Dr. Sylvia Hastuti Sutanto Dosen Fisika Unpar.

Meutia berharap agar mahasiswa, khususnya yang kini tengah mendalami Ilmu Fisika, untuk terus mencari kesempatan belajar dan memperkaya diri dengan berita dan inovasi ilmu yang paling mutakhir, khususnya di bidang pembelajaran masing-masing.

“Percaya dirilah. Walaupun nanti akhirnya tidak bekerja di bidang fisika, saya yakin pola pikir yang terbentuk (dengan) belajar fisika akan bermanfaat dalam pekerjaan apapun,” pesannya.

(Meutia Wulansatiti, Fisika Unpar 2013)

Sumber: unpar.ac.id