Dosen Fisika UNPAR, Philips N Gunawidjaja PhD, menjadi Narasumber pada Seminar Nasional Pendidikan Sains yang diselenggarakan oleh Indonesia Toray Science Fondation (ITSF)

Philips N Gunawidjaja Ph.D., Dosen Program Studi Fisika, FTIS, UNPAR, menjadi pembicara pada Seminar Nasional Pendidikan Sains yang diselenggarakan oleh Indonesia Toray Science Fondation (ITSF), bertajuk “Inovasi Pengajaran Sains yang Mempermudah Pemahaman Siswa”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin, 4 Maret 2019, di Gedung Balai Kartini – Ruang Anggrek Jalan Gatot Subroto Kav. 37, Jakarta, yang diikuti oleh para Guru SMP/Madrasah Tsanawiyah/SMA/ Madrasah Aliyah/SMK yang mengajar di bidang Ilmu Pengetahuan Alam/IPA(Fisika/Kimia/Biologi).

Dalam materinya, Philips memaparkan  salah satu teknik pembelajaran yang dikenal dengan 5E Learning Cycle, dan mencontohkan penerapannya pada mata pelajaran fisika, biologi dan kimia.

Model pembelajaran instruksi 5E merupakan sebuah model menarik yang dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas. Model ini diciptakan oleh Roger Bybee di tahun 1980-an dan saat ini metode pembelajaran 5E merupakan salah satu model yang sangat populer digunakan dalam metode pembelajaran sains. 5E pada metode pembelajaran instruksi 5E terdiri dari 5 kata yang memiliki arti tersendiri. 5E adalah sebuah singkatan yang terdiri dari Engage, Explore, Explain, Elaborate dan Evaluate.

Metode pembelajaran instruksi 5E dapat digambarkan sebagai berikut:

Kata Engage merupakan kata yang berarti attract someone’s interest, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi menarik minat seseorang. Aktifitas Engage biasanya digunakan sebagai langkah pertama dalam model pembelajaran instruksi 5E dengan tujuan seperti artinya yaitu menarik minat siswa untuk mempelajari topik yang akan diajarkan. Di dalam aktifitas ini, pengajar dapat juga menilai seberapa banyak siswa mengetahui topik yang akan diajarkan.

Kata Explore dapat diterjemahkan dengan menggunakan kata menyelidiki. Langkah kedua yang dilakukan oleh siswa di dalam metode pembelajaran 5E adalah langkah menyelidiki. Dalam fase pembelajaran ini, siswa diberikan kesempatan untuk bereksplorasi, terlibat lebih dalam dengan topik yang diajarkan dan membangun pemahaman mereka sendiri terkait topik tersebut.

Kata Explain berarti menjelaskan. Di dalam fase ini, siswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang telah mereka pelajari dari proses engage dan explore yang telah dilakukan. Ketika seorang siswa menjelaskan, siswa lain mendengarkan, dan bersama-sama, siswa dapat mendapatkan suatu kesimpulan. Pengajar yang berperan sebagai fasilitator membantu dalam proses diskusi agar siswa mendapatkan  pencerahan mengenai topik yang dibahas.

Langkah selanjutnya yang dapat diterapkan dalam metode pembelajaran ini adalah langkah Elaborate. Dalam fase elaborate, siswa dapat diberikan informasi tambahan untuk mendapatkan gambaran yang lebih dalam mengenai apa yang telah dipelajari. Pengajar dapat memberikan pertanyaan lain yang terkait dengan apa yang telah siswa pelajari agar siswa dapat menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan dunia disekitarnya.

Langkah terakhir yang dapat diterapkan dalam proses ini adalah yang disebut dengan Evaluate. Kata evaluate dapat diterjemahkan menjadi evaluasi. Evaluasi tidak hanya dilakukan pada siswa tetapi juga pada pengajar. Tujuannya sangat sederhana yaitu menilai berapa banyakpembelajaran yang telah terjadi pada proses yang telah dilakukan. Tentu saja, proses ini dapat dilakukan disetiap fase pembelajaran untuk melihat progress yang telah dicapai oleh siswa. Bentuk evaluasi yang diberikan dapat beragam seperti ulangan, rubrik, maupun project.

Pada penghujung seminar Philips mengatakan, “Mata pelajaran sains merupakan mata pelajaran yang kurang diminati, padahal Indonesia membutuhkan banyak guru sains untuk membangun negeri menjadi lebih baik. Mungkinkah cara kita mengajar yang perlu diperbaiki? “

“Mari kita tingkatkan cara mengajar kita untuk menjadi guru yang lebih baik, untuk Indonesia yang lebih baik.” Tambahnya di akhir sesi.