“Analytical study of a Kerr-Sen black hole and a charged massive scalar field” (Catatan mantan pembimbing)

Grup Gravitasi gelombang pertama fisika UNPAR
Dari kanan ke kiri: Managamtua Simbolon, Haryanto Siahaan, Canisius Bernard.

 

Bagian berbahasa Inggris pada judul tulisan ini merupakan judul dari artikel kedua Canisius Bernard sebagai penulis tunggal di jurnal Physical Review D, yaitu Phys. Rev. D 96, 105025, (2017).

Tahun 2016, Bernard juga sukses sebagai penulis tunggal dalam mempublikasikan intisari skripsi sarjananya di jurnal yang sama. Saat itu saya (Haryanto Siahaan) yang menjadi pembimbing skripsi Bernard, meminta Bernard untuk memeriksa eksistensi solusi medan skalar stasioner di daerah tidak terlalu jauh dari lubang hitam Kerr-Sen. Sebenarnya topik ini berasal dari saran seorang fisikawan Portugal, Dr. Carlos Herdeiro, beberapa waktu sebelumnya melalui email kepada saya. Dr. Carlos Herdeiro menemukan laporan pekerjaan saya terkait ketidakstabilan superradiant medan skalar dalam ruang-waktu lubang hitam Kerr-Sen (H. M. Siahaan, Int.J.Mod.Phys. D24 (2015)) mengindikasikan kemungkinan eksistensi awan skalar di sekitar lubang hitam yang sama. Namun saat itu saya sedang tertarik mengerjakan beberapa aspek terkait lubang hitam termagnetisasi, maka saran dari Dr. Carlos Herdeiro ini saya sampaikan ke Bernard. Karena semester sebelumnya Bernard telah lulus dengan sangat memuaskan di kelas teori relativitas yang saya berikan di jurusan fisika UNPAR, saya yakin dia mampu mempelajari permasalahan ini dengan cukup mandiri.

Selama 6 bulan pertama proses skripsi, tugas Bernard adalah mempelajari beberapa paper terkait dan mencoba menurunkan ulang persamaan-persamaan yang ada di dalam paper-paper tersebut. Namanya mahasiswa, tentu tidak jarang dia mentok. Maka, sebagai pembimbing, saya coba lakukan demonstrasi perhitungan terkait. Meskipun yang dikerjakan “hanya” berupa review dari beberapa paper, tidak jarang juga saya ikut “tersesat”, tapi akhirnya berhasil keluar dari masalah. Maklum, pembimbing juga manusia, but it was FUN. Akhirnya setelah Bernard siap melakukan pekerjaan sebenarnya, barulah dia saya tuntut lebih mandiri. Ada beberapa alasan terkait hal ini. Pertama saya yakin dia mampu dan telah dibekali pengetahuan yang cukup, sehingga saya berpikir kenapa tidak biarkan saja dia kerja mandiri. Alasan kedua, dan ini yang paling penting, saya juga cukup sibuk dengan penelitian saya sendiri. Akhirnya, dengan usaha yang cukup keras, intisari pekerjaan Bernard diterima di Physical Review D (http://fisika.unpar.ac.id/canisius-bernard-mahasiswa-s1-fisika-dengan-publikasi-internasional-single-author/).

Keinginan Bernard untuk melanjutkan studi fisika teoretik ke jenjang yang lebih tinggi membuatnya memilih untuk sementara membantu asistensi perkuliahan yang diberikan jurusan fisika UNPAR. Hal ini baik, karena dia tetap bisa mengasah pengetahuannya melalui asistensi di kelas, dan juga agar dapat melanjutkan penelitian pribadinya. Dewasa ini, untuk komunitas fisika teoretik, situs arxiv.org mempermudah dalam mendapatkan “sasaran” untuk diteliti. Tiap hari, Senin s/d Jumat, ratusan preprint dari peneliti di seluruh dunia muncul di situs ini. Memang, kita juga harus mampu menyaring mana yang baik dan mana yang kurang, dan kemampuan ini umumnya didapat dari pengalaman. Suatu waktu saya menemukan sebuah paper dari Dr. Shahar Hod, fisikawan Israel, terkait studi analitik terkait frekuensi medan skalar di sekitar lubang hitam dalam teori Einstein-Maxwell. Lalu saya tunjukkan paper ini kepada Bernard, dan diapun tertarik. Berbekal pengalamannya dalam menelaah “awan” skalar di sekitar lubang hitam Kerr-Sen, kemungkinan besar dia mampu meneliti lebih jauh terkait frekuensi medan terkait.

Untuk pekerjaan keduanya ini, saya benar-benar lepas tangan. Bernard saya tantang untuk bisa kembali menjadi penulis tunggal di sebuah jurnal bereputasi. Kami pernah berdiskusi singkat, mungkin sekitar dua kali, namun diskusi itu hanya terkait interpretasi dari laporan dalam beberapa literatur yang dia baca. Saya terkadang bisa membaca kegundahannya, karena memang untuk bisa menjadi penulis tunggal di sebuah jurnal terkemuka tidaklah mudah. Tidak cukup hanya bermodal kemampuan analitik dan pengetahuan yang memadai, tapi juga kegigihan. Pastilah pernah muncul dalam pikirannya: apakah pekerjaan ini harus tetap dilanjutkan? Sesekali kami berpapasan di kampus, saya hanya menanyakan perkembangan pekerjaannya, tapi tentunya tetap memberikan motivasi.

Akhirnya, bulan lalu, saya dikabari Bernard bahwa karyanya diterima di Physical Review D (lagi). Bagi saya selaku mantan pembimbing, kabar ini sangat menggembirakan. Somehow, I have helped someone to become a physicist. Untuk jurusan fisika UNPAR, hal ini menandakan perkuliahan yang diberikan kepada Bernard selama menempuh studi sarjananya di UNPAR telah benar-benar mempersiapkannya untuk melakukan penelitian yang sangat baik meski usianya masih muda. Saya sering menggambarkan untuk bisa melakukan penelitian fisika teoretik, seseorang harus membangun pengetahuannya seperti struktur piramid. Dasar-dasarnya adalah keempat cabang fisika yang sering dikategorikan sebagai fisika klasik: mekanika, gelombang, listrik-magnet, dan termodinamika. Lalu pada tahap selanjutnya fisika kuantum dan fisika statistik. Sebagai “alat” dalam memahami gejala alam/fisika, dengan sangat baik Feynman (Nobelis fisika 1965) menggambarkannya:

To those who do not know mathematics it is difficult to get across a real feeling as to the beauty, the deepest beauty, of nature. … If you want to learn about nature, to appreciate nature, it is necessary to understand the language that she speaks in.

Keberhasilan Bernard dalam karya tulis keduanya di Physical Review D ini juga menandakan perkuliahan fisika-matematik yang diberikan di jurusan fisika UNPAR telah membekalinya ilmu yang memadai untuk bisa berkiprah mandiri pada level internasional. Saya sebagai mantan pembimbing tahu betul akan hal ini, dimana saya tidak mengalami kesulitan dalam menjelaskan aspek matematis dari pekerjaan yang dilakukan. Misalnya saja, suatu saat pernah saya ingin menjelaskan terkait fungsi hypergeometric yang muncul di literatur. Bernard dengan mudah mengikuti penjelasan saya karena fungsi dan persamaan diferensial terkait hal ini telah disampaikan dengan baik di perkuliahan fisika matematika. Dan saya mendapati kemudahan ini tidak hanya pada sosok Bernard, tetapi juga pada mahasiswa lain yang saya bimbing.

Salah satu catatan menarik untuk keberhasilan Bernard dalam publikasi keduanya ini adalah, saat yang bersangkutan mem-forward email juri Physical Review D kepada saya, saya tidak menemukan komentar juri yang meminta Bernard meningkatkan kualitas bahasa Inggris di manuskripnya. Artinya, juri mendapati presentasi Bernard dalam bahasa Inggris di papernya telah baik adanya. Bisa jadi ini karena perkuliahan bahasa Inggris yang diterima Bernard selama di UNPAR, dan ada syarat TOEFL minimum yang diharuskan UNPAR kepada mahasiswanya agar bisa lulus sarjana. Tetapi memang salah satu kesulitan untuk publikasi di jurnal internasional adalah terkait bahasa Inggris. Saya sendiri saat menerima tanggapan juri dari sebuah jurnal tidak jarang mendapatkan komentar agar kualitas bahasa Inggris di manuskrip saya dapat ditingkatkan.

Tentang komentar juri terkait materi dari paper Bernard juga menarik. Tanggapan yang Bernard terima dari juri adalah berupa masukan untuk penegasan/perbaikan pada beberapa point. Saya sendiri, saat mengirim manuskrip ke sebuah jurnal, pernah menerima komentar yang jauh lebih panjang dan rumit. Bahkan tidak jarang butuh waktu sampai berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkan tanggapan balik terutama karena keterbatasan pengetahuan (ini resiko buruk penulis tunggal). Terkadang pertanyaan juri adalah sekedar untuk mengukur kedalaman pengatahuan penulis. Hal ini mengingatkan saya kepada nasehat dari salah satu mantan mentor: usahakan jangan ada “titik lemah” dalam manuskrip untuk diserang oleh juri. Dalam membaca ulang manuskrip sebelum dikirim ke jurnal, anggap diri kita sebagai juri, kira-kira apa yang akan juri tanyakan. Hal ini baik dilakukan untuk meminimalisir komentar juri nantinya, dan mempermudah ke tahap selanjutnya. Dalam hal ini, Bernard telah melakukannya dengan baik, sehingga proses penerbitan karyanya yang kedua ini terbilang cukup mulus.

Akhir dari catatan ini, selamat untuk Bernard atas publikasi keduanya di jurnal Physical Review D. Ini adalah keberhasilan besar untuk Bernard, dan juga untuk jurusan fisika UNPAR dalam mencetak fisikawan. Semoga jejak Bernard dapat diikuti oleh mahasiswa lain di UNPAR, untuk membawa nama Indonesia di jurnal terkemuka internasional, dan khususnya nama “Fisika UNPAR”.

Ditulis oleh: Haryanto M Siahaan, PhD , Dosen Program Studi Fisika UNPAR